Bank Indonesia Mengatakan Akan Berupaya 'Semaksimal Mungkin' untuk Menstabilkan Nilai Tukar Rupiah
Taruhan bola – TEMPO.CO, Jakarta – Bank Indonesia (BI) telah berjanji untuk meningkatkan upaya menstabilkan nilai tukar rupiah, seiring mata uang Indonesia kembali menghadapi tekanan akibat menguatnya dolar AS yang didorong oleh ekspektasi pengetatan kebijakan moneter AS.
“Kami akan terus hadir secara penuh di pasar untuk memastikan rupiah tetap stabil, dan seiring waktu kami akan memperkuat nilai tukar rupiah,” kata Ramdan Denny Prakoso, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, di kompleks Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di Senayan, Jakarta, pada Selasa, 7 Juli.
Rupiah Melemah Seiring Penguatan Dolar
Rupiah sempat pulih ke level sekitar Rp17.000 per dolar AS setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan, atau BI Rate, setelah sebelumnya melemah hingga melampaui Rp18.000 per dolar.
Namun, sejak itu mata uang tersebut kembali berada di bawah tekanan. Menurut Trading Economics, nilai tukar rupiah melemah menjadi Rp18.003 per dolar AS pada Rabu sore, 8 Juli.
Sinyal Hawkish The Fed Memberatkan Mata Uang Pasar Emergen
Denny Dikatakan bahwa salah satu faktor utama di balik pelemahan rupiah adalah sikap yang semakin hawkish yang diambil oleh para pejabat Federal Reserve AS selama rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada 17 Juni.
Meskipun Fed mempertahankan suku bunga acuan, yaitu suku bunga dana federal, tidak berubah, pasar menafsirkan komentar para pembuat kebijakan tersebut sebagai sinyal akan adanya kebijakan moneter yang lebih ketat di masa mendatang.
Perubahan ekspektasi ini mendorong kenaikan Indeks Dolar AS (DXY) dan memberikan tekanan pada mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah.
“Sinyal hawkish tersebut menunjukkan bahwa suku bunga federal funds kini diperkirakan tidak akan turun tahun ini, melainkan justru berpotensi naik,” kata Denny.
Ia mencatat bahwa DXY naik dari sekitar 95 pada Januari 2026 menjadi 101 pada akhir Juni, yang mencerminkan penguatan dolar AS secara luas.
Rupiah Tidak Sendirian Menghadapi Tekanan
Denny menekankan bahwa pelemahan rupiah merupakan bagian dari tren yang lebih luas yang memengaruhi mata uang negara-negara berkembang.
Berdasarkan pemantauan Bank Indonesia, rubel Rusia mencatat sha Depresiasi rupiah, melemah 5,5 persen terhadap dolar AS.
Baht Thailand melemah 2,3 persen, diikuti oleh rupiah sebesar 1,4 persen.
Won Korea Selatan dan peso Filipina masing-masing melemah 1 persen, sementara rupee India turun 0,7 persen dan renminbi Tiongkok melemah 0,5 persen.
BI Meningkatkan Intervensi Pasar
Bank Indonesia telah meluncurkan beberapa langkah untuk mendukung rupiah, termasuk kenaikan kumulatif sebesar 100 basis poin pada Suku Bunga BI antara Mei dan Juni, sehingga membawa suku bunga acuan menjadi 5,75 persen.
Bank sentral juga telah mengintensifkan operasi intervensi pasar baik di pasar domestik maupun luar negeri, sekaligus menawarkan imbal hasil yang menarik pada Surat Berharga Bank Indonesia (SRBI) untuk mendorong masuknya modal asing.
Menurut Denny, Bank Indonesia tetap berkomitmen untuk menjaga stabilitas rupiah, sekaligus menekankan bahwa upaya terkoordinasi antarlembaga akan sangat penting.
“Tentu saja, sinergi dari berbagai pihak sangat diperlukan untuk secara kolektif str “Memperkuat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS,” katanya.