Purbaya Mengungkap Peringatan S&P Terkait Bunga Utang Indonesia
Taruhan bola – TEMPO.CO, Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bertemu dengan lembaga pemeringkat kredit internasional S&P Global Ratings di Washington, D.C.
, pada Selasa, 14 April 2026. Purbaya mengungkapkan bahwa S&P mengeluarkan peringatan terkait rasio utang pemerintah Indonesia. Menurut menteri keuangan tersebut, S&P menyoroti rasio pembayaran bunga utang negara terhadap total pendapatan.
“Mereka mengeluarkan peringatan, dengan mencatat bahwa pembayaran bunga dibandingkan dengan pendapatan telah melebihi 15 persen,” kata Purbaya dalam siaran pers yang dikutip pada Jumat, 17 April 2026. Purbaya menjelaskan bahwa pemerintah akan terus memantau kondisi ini sambil menjaga integritas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). “Saya katakan kami akan terus memantaunya, memastikan kondisi ekonomi tetap kondusif dan lanskap keuangan tidak memburuk dalam hal pembayaran bunga,” katanya.
Rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan negara yang dapat diterima, menurut standar yang diterapkan oleh lembaga seperti S&P, adalah secara umum jauh di bawah 15 persen. Pada kenyataannya, dengan pembayaran bunga utang Indonesia yang mencapai Rp599,5 triliun tahun ini dibandingkan dengan target pendapatan negara sebesar Rp3.153,9 triliun, rasio tersebut telah mencapai 19 persen.
Ini berarti bahwa 19 persen dari total pendapatan negara digunakan semata-mata untuk membayar bunga utang, belum termasuk pelunasan pokok utang pemerintah. Pada tahun ini, berdasarkan Undang-Undang Anggaran Negara Nomor 17 Tahun 2025, pemerintah direncanakan akan mengambil utang baru sebesar Rp832,2 triliun, meningkat dari target tahun lalu sebesar Rp775,9 triliun. Sebelumnya, S&P Global Ratings merilis laporan yang menyarankan bahwa peringkat utang nasional Indonesia rentan terhadap melemahnya indikator fiskal atau kredit eksternal akibat konflik yang sedang berlangsung.
Peringkat kredit Indonesia dianggap lebih rentan dibandingkan dengan beberapa negara tetangga ASEAN, seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Meskipun demikian, Purbaya menyatakan bahwa selama pertemuan di Washington, S&P menegaskan akan mempertahankan peringkat utang Indonesia peringkat di tingkat BBB dengan prospek stabil. S&P biasanya merilis atau memperbarui peringkat kredit suverén Indonesia pada bulan Juli.
Menurut Purbaya, tim S&P akan mengunjungi Indonesia pada Juni 2026 untuk melakukan penilaian formal.