Bank Dunia: Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan akan melambat pada tahun 2026
Liga335 – Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan melambat menjadi 5% pada tahun 2026 seiring meningkatnya tekanan terhadap kondisi fiskal akibat program belanja pemerintah yang ambisius serta meningkatnya biaya subsidi energi di tengah kenaikan harga minyak.
Proyeksi tersebut lebih rendah daripada target pertumbuhan ekonomi pemerintah, yang berada pada kisaran 5,4% hingga 6%.
Situasi ini juga telah mendorong nilai tukar rupiah ke level terendah sepanjang sejarah dan memicu pelemahan di pasar saham di tengah kekhawatiran investor terhadap rencana belanja pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Menurut Bank Dunia, proyeksi tersebut mencerminkan hasil ekonomi terkini yang lebih baik dari perkiraan serta percepatan belanja pemerintah, bukan karena perbaikan dalam lingkungan eksternal.
Namun, lembaga tersebut menyatakan bahwa pencapaian target pertumbuhan masih sangat bergantung pada efektivitas stimulus fiskal dalam mendorong konsumsi rumah tangga.
Bank Dunia menyatakan bahwa proyeksi tersebut didorong oleh kinerja ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan dan percepatan pengeluaran pemerintah Hal ini bukan disebabkan oleh membaiknya kondisi eksternal atau berkurangnya risiko ekonomi.
Bank Dunia memperingatkan bahwa ketergantungan pada stimulus fiskal memiliki risiko karena ruang fiskal pemerintah relatif terbatas.
Lembaga tersebut juga menyoroti kenaikan harga minyak, yang menambah beban subsidi dan kompensasi energi, sementara melemahnya nilai tukar rupiah meningkatkan biaya pembayaran utang luar negeri.
“Kenaikan harga minyak meningkatkan biaya subsidi dan kompensasi energi, sementara depresiasi rupiah menaikkan biaya pembayaran utang luar negeri,” kata Bank Dunia.
Oleh karena itu, Bank Dunia mendesak pemerintah untuk secara bertahap menyesuaikan kebijakan subsidi bahan bakar guna meringankan tekanan pada anggaran negara.
Sejauh ini, pemerintah telah mempertahankan harga bahan bakar melalui dukungan anggaran negara sebagai upaya untuk melindungi daya beli.
Namun, pekan ini pemerintah menaikkan harga dua jenis bahan bakar yang banyak digunakan, sebuah langkah yang oleh beberapa analis dipandang sebagai penyesuaian kebijakan dalam subsidi energi.
Bank Dunia juga memperingatkan bahwa br Subsidi yang didistribusikan secara merata cenderung lebih menguntungkan rumah tangga berpenghasilan tinggi daripada kelompok rentan, yang sebenarnya merupakan sasaran utama kebijakan tersebut.
Di Indonesia, kebijakan penetapan harga bahan bakar merupakan isu politik yang sangat sensitif dan sering memicu protes ketika harga dinaikkan.
Menurut Bank Dunia, lonjakan harga minyak saat ini dapat menjadi peluang bagi pemerintah untuk mereformasi sistem subsidi energi dan mengalihkan dukungan ke program-program yang lebih terarah.
Lembaga tersebut merekomendasikan perluasan bantuan langsung kepada 40% rumah tangga dengan pendapatan terendah serta mengalokasikan penghematan anggaran untuk perlindungan sosial dan investasi produktif.