Menteri Perdagangan: Timur Tengah Menyumbang 3,49% dari Total Ekspor Indonesia
Liga335 daftar – TEMPO.CO, Jakarta – Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan bahwa kinerja ekspor Indonesia terus menunjukkan tren positif meskipun ketegangan geopolitik global masih berlangsung, terutama konflik di Timur Tengah.
Menurut Budi, eskalasi terbaru yang dipicu oleh Israel dan sekutunya, Amerika Serikat, dalam serangan mereka terhadap Iran memberikan tekanan pada perdagangan global, termasuk ekspor Indonesia.
Meningkatnya kebijakan proteksionis di berbagai negara semakin menambah tantangan tersebut.
“Di tengah ketidakpastian global, kinerja ekspor kita menunjukkan ketahanan yang signifikan,” kata Budi saat peluncuran Program Campuspreneur: Pengembangan Wirausaha Muda Berorientasi Ekspor di Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Jawa Tengah, pada Kamis, 2 April 2026.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, nilai ekspor Indonesia untuk periode Januari–Februari 2026 mencapai US$44,32 miliar, naik 2,19% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025.
Budi menggambarkan hal ini sebagai sinyal bahwa peluang pasar global bagi Produk-produk Indonesia tetap menunjukkan kinerja yang kuat.
“Meskipun demikian, pemerintah tetap bersikap waspada terhadap dampak berkelanjutan dari konflik geopolitik, terutama terhadap stabilitas rantai pasokan dan permintaan pasar,” tambahnya.
Budi mencatat bahwa Timur Tengah saat ini menyumbang sekitar 3,49% dari total ekspor Indonesia, atau sekitar US$9,87 miliar.
Mengingat signifikansi angka ini, melindunginya dari gangguan akibat eskalasi konflik menjadi prioritas.
Sebagai tanggapan, Kementerian Perdagangan menerapkan beberapa langkah, dengan fokus utama pada perluasan dan diversifikasi pasar ekspor guna mengurangi ketergantungan pada wilayah tertentu. Meskipun diversifikasi pasar bukanlah strategi baru, hal ini menjadi semakin relevan di tengah krisis yang dapat dengan cepat mengubah dinamika perdagangan.
Budi mengutip pandemi Covid-19 sebagai contoh, ketika gangguan rantai pasokan global menciptakan peluang bagi negara lain untuk mengisi celah pasar.
Selain itu, pemerintah berupaya mengoptimalkan perjanjian perdagangan Indonesia untuk mengurangi t hambatan tarif dan non-tarif serta memperkuat daya saing produk nasional di pasar internasional.
“Ketika terjadi gangguan global, peluang baru selalu muncul.
Kuncinya adalah seberapa cepat kita dapat memanfaatkannya,” kata Budi.
Dengan strategi gabungan berupa diversifikasi pasar dan optimalisasi kerja sama perdagangan, pemerintah tetap optimis bahwa kinerja ekspor Indonesia tidak hanya dapat dipertahankan, tetapi juga ditingkatkan, bahkan di tengah kondisi global yang bergejolak dan tidak pasti.