Indonesia beralih dari pasar otomotif menjadi basis produksi: Menteri

Indonesia beralih dari pasar otomotif menjadi basis produksi: Menteri

Indonesia beralih dari pasar otomotif menjadi basis produksi: Menteri

Liga335 – Indonesia Beralih dari Pasar Otomotif Menjadi Pusat Produksi: Menteri
Berita terkait: Indonesia Bidik Pasar Global Melalui Dorongan Industri Otomotif Lokal
Tangerang, Banten (ANTARA) – Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan Indonesia sedang bertransformasi dari sekadar pasar otomotif menjadi pusat produksi kendaraan.Dalam acara Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 di Tangerang pada hari Kamis, ia menyampaikan hal ini sebagai bagian dari tiga pesan utama pemerintah kepada industri otomotif nasional. “Indonesia sedang dalam proses beralih dari industri berbasis pasar menjadi industri berbasis produksi,” tegasnya.

Menteri tersebut memulai dengan menekankan bahwa industri otomotif tidak hanya didorong oleh kekuatan pasar, tetapi juga memainkan peran strategis dalam memperkuat ketahanan ekonomi negara.Di tengah ketidakpastian geopolitik dan perlambatan ekonomi global, perekonomian Indonesia tetap tumbuh sebesar 5,6 persen pada kuartal pertama tahun 2026. Kartasasmita mengatakan bahwa industri manufaktur tetap sebagai tulang punggung perekonomian, yang menyumbang 19,07 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) dan lebih dari 82 persen terhadap total ekspor nasional.

Ia mencatat bahwa industri peralatan transportasi memberikan nilai tambah sebesar lebih dari Rp285 triliun (US$15 miliar). Namun, ia menekankan bahwa kekuatan industri otomotif tidak hanya tercermin dari kontribusinya yang signifikan terhadap PDB.Terkait poin kedua, menteri tersebut menyebutkan bahwa Indonesia kini memasuki fase baru sebagai basis produksi otomotif, sebagaimana tercermin dalam produksi kendaraan bermotor nasional.

Sepanjang paruh pertama tahun 2026, produksi kendaraan bermotor mencapai 615.000 unit, meningkat 11,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, penjualan grosir meningkat 15,9 persen menjadi 436.

000 unit. Kartasasmita mengatakan tren ini membuatnya yakin bahwa penjualan kendaraan di dalam negeri akan mencapai target tahun 2026 sebesar 850.000 unit.

Ia menyoroti bahwa pasar otomotif domestik masih memiliki ruang pertumbuhan yang signifikan, tidak g bahwa Indonesia hanya memiliki sekitar 99 mobil per 1.000 penduduk, jauh di bawah angka 275 di Thailand dan 490 di Malaysia. Ia menekankan bahwa industri dalam negeri harus memanfaatkan peluang pertumbuhan pasar ini, bukan mengisinya dengan produk impor.

Selain itu, menteri tersebut menjelaskan bahwa ekspor kendaraan rakitan utuh (CBU) tumbuh sebesar 7,7 persen, ekspor kendaraan dalam bentuk suku cadang (CKD) meningkat sebesar 38 persen, sementara ekspor komponen tumbuh sebesar 46 persen. Sementara itu, impor kendaraan utuh justru turun sebesar 49 persen. “Keempat indikator ini membentuk pola yang jelas: semakin dalam kita bergerak ke dalam rantai nilai, semakin cepat pertumbuhan kita.

Indonesia tidak lagi sekadar mengekspor kendaraan, kini kita menawarkan kemampuan untuk memproduksinya. Arsitektur rantai pasok yang telah kita bangun berada di jalur yang tepat, dan kita harus terus memperkuatnya,” ujarnya. Sementara itu, poin kunci ketiga menyoroti perlunya pendekatan multi-jalur terhadap transisi energi di sektor otomotif, dengan solusi nasional reignty sebagai intinya.

Kartasasmita menyatakan bahwa penjualan kendaraan listrik pada paruh pertama tahun 2026 meningkat sebesar 69,4 persen menjadi 117.000 unit, setara dengan 26,8 persen dari total penjualan kendaraan penumpang nasional. Dari jumlah tersebut, 69.

000 unit merupakan kendaraan listrik baterai (BEV).