Studi Menunjukkan Pengaruh Tiongkok dalam Perekonomian Indonesia Mencapai 41,2%

Studi Menunjukkan Pengaruh Tiongkok dalam Perekonomian Indonesia Mencapai 41,2%

Studi Menunjukkan Pengaruh Tiongkok dalam Perekonomian Indonesia Mencapai 41,2%

Liga335 daftar – TEMPO.CO, Jakarta – Pusat Studi Ekonomi dan Hukum (Celios) Indonesia telah merilis Indeks Provinsi Tiongkok-Indonesia 2025, sebuah studi yang mengukur sejauh mana pengaruh Tiongkok di seluruh wilayah Indonesia antara 1 Agustus 2024 dan 1 Agustus 2025.
Temuan tersebut menyoroti jejak Tiongkok yang semakin meluas di berbagai sektor, dengan sektor ekonomi sebagai yang paling dominan.

Menurut laporan tersebut, pengaruh Tiongkok di sektor ekonomi Indonesia mencapai 41,2 persen, mencakup perdagangan, investasi, dan infrastruktur.
“Ekonomi tetap menjadi bidang terkuat bagi kehadiran Tiongkok,” kata Muhammad Zulfikar Rakhmat, Direktur China-Indonesia Desk di Celios, saat peluncuran penelitian di Jakarta pada Rabu, 10 September 2025.
Celios menemukan bahwa aktivitas ekonomi Tiongkok paling terkonsentrasi di Sumatera Utara (83,3 persen), diikuti oleh Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, dan Kalimantan Timur.

Sebaliknya, tidak ada keterlibatan ekonomi Tiongkok yang signifikan tercatat di Sumatera Barat dan Papua M Wilayah pegunungan.
Di bidang sosial, pengaruh Tiongkok diperkirakan mencapai 22,1 persen, terutama melalui jaringan diaspora, festival budaya, dan pertukaran pelajar. Bali menempati urutan teratas dengan 50 persen, disusul oleh Sumatera Utara (44,4 persen) dan Jakarta (38,9 persen).

Pengaruh politik juga terlihat jelas, dengan peran Tiongkok dalam politik lokal tercatat sebesar 12,7 persen. Hal ini paling terlihat di Sumatera Utara (40 persen) dan Jawa Tengah (32,5 persen), di mana pemerintah provinsi dan aktor politik telah menandatangani perjanjian kerja sama serta menyelenggarakan pertukaran resmi dengan mitra Tiongkok.
“Kami melihat pemerintah provinsi dan tokoh politik secara aktif berinteraksi dengan mitra Tiongkok melalui perjanjian, pertukaran, dan kunjungan,” kata Zulfikar.

Di bidang akademis, jejak Tiongkok juga mencapai 12,7 persen, melalui kemitraan, beasiswa, dan jaringan penelitian. Pengaruh terkuat ditemukan di Sumatera Utara dan Jawa Timur (masing-masing 40,9 persen), Jawa Barat (34,1 persen), Bali (31,8 persen), dan Yogyakarta (29,6 persen).
Bidang-bidang pengaruh lainnya masih lebih kecil: teknologi (7,4 persen), kebijakan luar negeri (3,6 persen), dan media (0,7 persen).

Secara keseluruhan, Celios menemukan bahwa pengaruh Tiongkok lebih dominan di wilayah barat dan tengah Indonesia, seperti Sumatera Utara, Bali, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi. Sementara itu, Kalimantan, Maluku, dan Papua menunjukkan tingkat pengaruh yang lebih lemah.
“Provinsi-provinsi di Papua menunjukkan kehadiran Tiongkok yang sangat sedikit, atau dalam beberapa kasus tidak terukur,” tambah Zulfikar.