Produksi Gula Indonesia Meningkat Seiring Penurunan Konsumsi Rumah Tangga
Liga335 – TEMPO.CO, Jakarta – Wakil Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia, Sonny Harry Budi Utomo Harmadi, menyatakan bahwa produksi gula nasional mengalami peningkatan sementara konsumsi mengalami penurunan. Ia menyebutkan bahwa hal ini mencerminkan peningkatan ketahanan pangan serta pergeseran pola konsumsi masyarakat ke arah yang lebih sehat.
“Menariknya, konsumsi gula kita cenderung menurun dari waktu ke waktu, termasuk konsumsi per kapita,” kata Sonny dalam rapat kerja dengan Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat di Jakarta pada Rabu, 8 April 2026, seperti dikutip dari Antara. Ia menyatakan bahwa produksi gula nasional pada tahun 2025 mencapai 2,67 juta ton, meningkat dari angka 2,47 juta ton pada tahun 2024, dan 2,23 juta ton pada tahun 2023. “Salah satu pendorong peningkatan produksi gula pada tahun 2025 adalah perluasan luas tanam tebu kami,” katanya.
Ia menyebutkan bahwa peningkatan produksi tersebut didorong oleh perluasan luas tanam tebu, yang mencapai 563.000 hektar pada tahun 2025, naik dari 521.000 hektar pada tahun sebelumnya.
Penyebaran luas area penanaman tebu terkonsentrasi di beberapa provinsi utama seperti Jawa Timur, Lampung, Jawa Tengah, Sumatera Selatan, dan Jawa Barat yang merupakan pusat-pusat produksi nasional. Sejalan dengan luas area penanaman, distribusi produksi gula kristal putih juga mengikuti pola serupa di berbagai provinsi penghasil utama yang mendukung peningkatan produksi nasional yang signifikan. Sementara itu, konsumsi gula rumah tangga tercatat sekitar 1,4 juta ton, atau mendekati 1,5 juta ton secara nasional untuk memenuhi kebutuhan harian penduduk.
Menariknya, tren konsumsi gula rumah tangga menunjukkan penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, dengan angka konsumsi terbaru sekitar 1,46 juta ton, yang mencerminkan perubahan pola konsumsi. Namun, ia tidak merinci jumlah konsumsi gula di rumah tangga selama dua atau tiga tahun terakhir. Namun, ia menekankan bahwa.
Terdapat penurunan konsumsi gula di tingkat rumah tangga. Ia mengatakan bahwa konsumsi gula per kapita juga mengalami penurunan menjadi sekitar 5,15 kilogram per orang per tahun, sejalan dengan tren konsumsi komoditas lain seperti garam yang juga mengalami penurunan. Data menunjukkan bahwa konsumsi gula per kapita di Indonesia pada tahun 2023 rata-rata sebesar 5,8 kilogram per orang per tahun.
Menurut Sonny, penurunan tersebut diduga dipengaruhi oleh meningkatnya kesadaran masyarakat akan gaya hidup sehat serta pergeseran pola konsumsi ke arah makanan olahan yang diproduksi oleh industri dan sektor jasa. “Jadi mereka tidak membeli gula secara langsung, melainkan menggunakan makanan olahan yang diproduksi oleh industri atau restoran,” jelasnya. Konsumsi gula rumah tangga hanya menyumbang sekitar 23,13 persen dari total penggunaan gula nasional, yang menunjukkan dominasi penggunaan gula di sektor lain di luar konsumsi langsung oleh masyarakat.
Sektor industri pengolahan merupakan pengguna gula terbesar dengan volume mencapai Mencapai hampir 3,9 juta ton, yang mencerminkan tingginya aktivitas industri berbasis gula di Indonesia sepanjang tahun 2025. Selain itu, sektor hotel, restoran, dan katering (Horeca) juga menyumbang lebih dari 970.000 ton penggunaan gula sebagai bagian dari kebutuhan konsumsi layanan publik.
Secara keseluruhan, total konsumsi gula nasional pada tahun 2025 mencapai 6.330.690 ton, yang mencerminkan tingginya permintaan gula di berbagai sektor ekonomi dan konsumsi masyarakat.
Meskipun produksi meningkat, Indonesia masih mengimpor 3,93 juta ton gula pada tahun 2025, dengan pasokan utama berasal dari Brasil, Thailand, dan Australia. Baca: Bisakah Gula Memperlambat Penuaan?