Spirit Hijrah: Dari “Toxic Content” ke “Positive Content”

Artikel ini membahas fenomena hijrah digital, yaitu perubahan sikap dalam menggunakan media sosial—dari menyebarkan konten negatif atau “toxic content” menjadi konten yang bermanfaat dan positif.

Media Sosial dan Tantangan Moral

Perkembangan media sosial membuat siapa pun dapat menjadi pembuat konten. Namun, tidak semua konten membawa manfaat. Banyak konten yang berisi ejekan, ghibah, fitnah, atau komentar yang menyakiti orang lain.

Dalam perspektif dakwah, perilaku seperti itu termasuk akhlak tercela yang dapat merusak hubungan sosial serta menurunkan kualitas moral di ruang publik digital.

Karena itu, media sosial seharusnya digunakan untuk menyebarkan pesan kebaikan, bukan memperbanyak konflik atau kebencian.

Makna Hijrah dalam Dunia Digital

Hijrah tidak hanya berarti berpindah tempat, tetapi juga berubah menuju kehidupan yang lebih baik. Dalam konteks media sosial, hijrah bisa diwujudkan dengan mengubah cara berinteraksi di internet.

Perubahan itu antara lain:

  • berhenti membuat atau menyebarkan konten negatif,

  • tidak mudah menghina atau merendahkan orang lain,

  • serta memilih konten yang memberi inspirasi dan manfaat.

Hijrah digital berarti memanfaatkan teknologi sebagai sarana dakwah dan penyebaran nilai-nilai kebaikan.

Bahaya “Toxic Content”

Konten yang bersifat toxic sering muncul dalam bentuk:

  • ejekan atau hinaan,

  • gosip dan ghibah,

  • komentar kasar,

  • atau konten yang mempermalukan orang lain.

Perilaku tersebut tidak hanya melukai orang yang menjadi sasaran, tetapi juga menciptakan budaya komunikasi yang tidak sehat di masyarakat digital.

Dalam ajaran Islam, menghina atau mencela orang lain termasuk perbuatan yang dilarang. Al-Qur’an bahkan memberikan peringatan keras kepada orang yang gemar mencela dan merendahkan sesama.

Mengubah Media Sosial Menjadi Sarana Kebaikan

Sebaliknya, media sosial dapat menjadi sarana dakwah dan pendidikan moral jika digunakan secara bijak. Konten positif dapat berupa:

  • nasihat dan motivasi,

  • pesan moral,

  • edukasi agama,

  • serta cerita inspiratif yang memberi semangat bagi orang lain.

Konten semacam ini tidak hanya bermanfaat bagi pembuatnya, tetapi juga bagi masyarakat yang mengonsumsinya.

Mengontrol Lisan dan Tulisan

Di dunia digital, komentar dan tulisan sama dengan ucapan. Karena itu, setiap pengguna media sosial perlu berhati-hati dalam menulis atau menyampaikan pendapat.

Sebelum mengunggah sesuatu, seseorang dianjurkan untuk mempertimbangkan:

  • apakah konten tersebut membawa manfaat,

  • apakah dapat menyakiti orang lain,

  • dan apakah sesuai dengan nilai moral.

Jika tidak membawa kebaikan, lebih baik tidak disebarkan.

Hijrah sebagai Perubahan Sikap

Spirit hijrah di era digital berarti mengubah cara menggunakan teknologi agar lebih bertanggung jawab.

Media sosial bukan sekadar ruang hiburan, tetapi juga ruang sosial yang mempengaruhi banyak orang. Karena itu, setiap pengguna memiliki tanggung jawab untuk menjaga etika dan menyebarkan hal-hal yang bermanfaat.

Dengan memilih positive content, seseorang tidak hanya memperbaiki dirinya sendiri, tetapi juga membantu menciptakan lingkungan digital yang lebih sehat dan bermakna.