Serangan Israel terhadap Iran Berpotensi Meningkatkan Harga di Indonesia

Serangan Israel terhadap Iran Berpotensi Meningkatkan Harga di Indonesia

Serangan Israel terhadap Iran Berpotensi Meningkatkan Harga di Indonesia

Taruhan bola – TEMPO.CO, Jakarta – Pendiri dan CEO Supply Chain Indonesia (SCI), Setijadi, memperkirakan harga solar akan naik sekitar Rp750-2.000 per liter akibat serangan Israel terhadap Iran.

“Dampak terhadap Indonesia akan terjadi melalui transmisi harga minyak global (Brent) ke harga solar domestik,” katanya dalam pesan tertulis pada Minggu, 1 Maret 2026. Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan militer terhadap Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026. Mereka menargetkan pemimpin-pemimpin teratas Iran dan mendorong Timur Tengah ke dalam konflik yang lebih luas.

Kenaikan harga solar dapat terjadi karena eskalasi konflik berpotensi menyebabkan gangguan di Selat Hormuz. Rute ini mengangkut sekitar 20 persen konsumsi minyak global dan 20-25 persen perdagangan gas alam cair (LNG) global. Akibatnya, harga energi internasional dapat melonjak jika terjadi gangguan.

Rentang kenaikan harga solar yang dihitung oleh Setijadi didasarkan pada skenario moderat dari sebuah. Kenaikan harga minyak mentah sebesar US$25 per barel. Harga minyak global bahkan dapat melonjak hingga US$50 per barel dalam skenario yang lebih parah.

Setijadi menyatakan bahwa bahan bakar diesel merupakan komponen utama dari biaya operasional truk, yang menjadi tulang punggung distribusi nasional. Setiadji mengkhawatirkan bahwa kenaikan harga minyak global akibat konflik di Timur Tengah akan secara signifikan meningkatkan biaya distribusi di Indonesia. Ia memperkirakan bahwa kenaikan harga bahan bakar diesel sebesar 30 persen dapat menyebabkan kenaikan biaya angkutan sebesar 10,5 hingga 12 persen.

Kenaikan ini didasarkan pada asumsi bahwa bahan bakar menyumbang sekitar 35–40 persen dari total biaya operasional truk. Kenaikan biaya distribusi akan berdampak pada harga barang. Biaya logistik rata-rata di Indonesia diperkirakan sekitar 14 persen dari harga produk.

Kenaikan biaya truk di atas 10 persen dapat mendorong kenaikan harga barang sebesar hampir 0,8 persen, terutama untuk komoditas berukuran besar dan margin tipis seperti makanan, bahan bangunan, dan lainnya. Bahan baku dan produk makanan cepat saji. Setijadi menyatakan bahwa logistik Indonesia masih sangat bergantung pada transportasi darat, sehingga relatif sensitif terhadap fluktuasi harga bahan bakar diesel.

Risiko terbesar adalah tekanan inflasi pada biaya distribusi, terutama untuk makanan dan barang kebutuhan pokok. Akibatnya, industri yang bergantung pada bahan baku impor menghadapi risiko ganda. Mereka mengalami kenaikan biaya impor akibat melonjaknya harga minyak dan kenaikan biaya distribusi domestik.

Selain itu, sektor konstruksi dan UMKM juga relatif rentan akibat biaya transportasi tinggi dan margin yang terbatas. Mengingat kerentanan ini, Setiadji mendorong pemerintah untuk menjaga stabilitas harga bahan bakar melalui kebijakan fiskal adaptif dan percepatan diversifikasi energi. Ia juga merekomendasikan penguatan konektivitas multimoda, terutama optimalisasi transportasi laut dan kereta api.

Setiadji meyakini bahwa penguatan distribusi sangat penting untuk mengurangi sensitivitas terhadap fluktuasi harga solar. Dia juga menekankan pentingnya rute distribusi yang efisien, konsolidasi barang, dan penerapan mekanisme penyesuaian biaya bahan bakar dalam kontrak logistik. Dia meyakini bahwa tanpa reformasi struktural sistem logistik, gejolak global berisiko menekan harga domestik dan melemahkan daya beli masyarakat.