Aliran Ekspor-Impor Indonesia dengan Negara-Negara di Selat Hormuz Dijelaskan
Liga335 daftar – TEMPO.CO, Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia menyatakan bahwa dampak dari meningkatnya ketegangan yang melibatkan Iran terhadap perdagangan Indonesia dengan Timur Tengah masih dalam tahap penilaian, terutama karena tiga mitra dagang Indonesia berada di sepanjang Selat Hormuz yang secara strategis vital.
Ateng Hartono, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa di Badan Pusat Statistik (BPS), mengatakan bahwa potensi gangguan harus dievaluasi dengan cermat.
Iran, Oman, dan Uni Emirat Arab (UEA) semuanya terletak di sepanjang Selat Hormuz, yang merupakan titik krusial bagi pengiriman energi global. Perdagangan Indonesia-Iran Pada tahun 2025, impor non-minyak dan gas Indonesia dari Iran mencapai US$8,4 juta. Produk utama meliputi buah-buahan senilai US$5,9 juta, besi dan baja senilai US$0,8 juta, serta mesin dan peralatan mekanik senilai US$0,7 juta, kata Ateng dalam konferensi pers di Jakarta pada Senin, 2 Maret 2026.
Sementara itu, ekspor non-minyak dan gas Indonesia ke Iran mencapai US$249,1 juta tahun lalu. Barang ekspor utama meliputi Buah-buahan senilai US$86,4 juta, kendaraan dan suku cadang senilai US$34,1 juta, serta lemak dan minyak hewan atau tumbuhan senilai US$22 juta.
Perdagangan dengan Oman Volume perdagangan dengan Oman jauh lebih besar.
Impor non-minyak dan gas Indonesia dari Oman mencapai US$718,8 juta pada tahun 2025, didominasi oleh besi dan baja senilai US$590,5 juta, bahan kimia organik senilai US$56,7 juta, serta garam, belerang, batu, dan produk semen senilai US$44,2 juta.
Ekspor ke Oman mencapai US$428,8 juta, terdiri terutama dari lemak dan minyak hewani atau nabati senilai US$227,7 juta, kendaraan dan suku cadang senilai US$64,2 juta, serta bahan bakar mineral senilai US$48,1 juta.
Perdagangan dengan Uni Emirat Arab Uni Emirat Arab tetap menjadi mitra dagang terbesar Indonesia di antara ketiga negara tersebut.
Impor Indonesia dari UAE mencapai US$1,4 miliar pada tahun 2025. Komoditas ekspor utama ke UAE meliputi logam mulia dan perhiasan senilai US$511,1 juta, aluminium dan produk terkait senilai US$181,6 juta, serta garam, belerang, batu, dan semen senilai US$43,2 juta. Ekspor non-minyak dan gas Indonesia ke Uni Emirat Arab (UEA) mencapai US$4,0 miliar pada tahun 2025.
Pengiriman utama meliputi lemak dan minyak hewan atau tumbuhan senilai US$510,3 juta, kendaraan dan suku cadang senilai US$363,5 juta, serta logam mulia dan perhiasan senilai US$183,6 juta. Mengapa Selat Hormuz Penting
Selat Hormuz merupakan salah satu koridor energi terpenting di dunia. Sekitar 20 persen konsumsi minyak global dan sekitar 20–25 persen perdagangan gas alam cair (LNG) global melewati perairan sempit ini.
Kekhawatiran tentang potensi gangguan meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026.
Pada Minggu, 1 Maret, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menyerang tiga kapal tanker minyak milik AS dan Inggris di Teluk dan Selat Hormuz menggunakan misil, sehingga kapal-kapal tersebut terbakar. Dalam pernyataan yang disiarkan oleh outlet resmi mereka, Sepah News, IRGC juga mengatakan telah menargetkan instalasi militer AS di Kuwait.
dan Bahrain. Otoritas Indonesia belum mengumumkan pembatasan perdagangan apa pun, tetapi pejabat mengatakan bahwa perkembangan di Selat Hormuz sedang dipantau secara ketat karena dampaknya yang potensial terhadap aliran energi global dan rantai pasokan. Baca: Apakah Perang Iran Akan Membuat Harga Minyak Melebihi $100 per Barel?