WHO mendukung Kementerian Kesehatan dalam meluncurkan pedoman teknis baru mengenai perencanaan pengadaan obat-obatan.
Taruhan bola – Pada Maret 2024, Kementerian Kesehatan Indonesia diluncurkan pedoman teknis baru mengenai perencanaan pengadaan obat (RKO), atau Rencana Kebutuhan Obat (RKO), dengan tujuan memastikan akses bagi seluruh warga Indonesia terhadap obat-obatan esensial yang berkualitas, aman, dan efektif.
Perencanaan pasokan obat yang efektif sangat penting untuk penguatan sistem kesehatan dan pencapaian cakupan kesehatan universal (UHC). Hal ini memerlukan pengelolaan sistemik yang efektif terhadap pasokan obat esensial, memastikan bahwa di semua tingkatan pelayanan, fasilitas kesehatan menjaga persediaan obat yang andal dan dapat memenuhi kebutuhan pasien serta mencegah kekurangan stok obat esensial.
Pedoman baru ini menanggapi berbagai tantangan spesifik Indonesia yang tercantum dalam studi tahun 2021, termasuk kesalahan dalam formulasi dan verifikasi akibat tenaga kerja yang kurang terlatih, proses yang tidak standar, dan ketidakpastian anggaran. Studi tersebut menunjukkan bahwa di seluruh Indonesia, tingkat realisasi transaksi pembelian elektronik untuk 40 obat esensial signifikan. Sangat rendah, seringkali di bawah 50% dari RKO yang diajukan.
“Pedoman teknis baru ini membahas pentingnya perencanaan pengadaan obat-obatan untuk memastikan ketersediaan obat-obatan yang mendukung kualitas, efisiensi, dan aksesibilitas layanan kesehatan sebagai bagian dari agenda transformasi kesehatan dan untuk mendukung pencapaian UHC,” kata Dr. Dra. Agusdini Banun Saptaningsih, MARS.
, Apt., Direktur Pengelolaan dan Layanan Farmasi, Kementerian Kesehatan, Pemerintah Indonesia. “Pedoman ini berfungsi sebagai acuan bagi tenaga kesehatan yang terlibat dalam perencanaan obat, menjelaskan konsep RKO dari tingkat fasilitas hingga tingkat nasional, serta pemantauan dan evaluasi.
Implementasi pedoman ini diharapkan dapat meningkatkan ketersediaan, distribusi, aksesibilitas, dan kualitas pengelolaan obat.”
Pedoman ini merupakan hasil dari serangkaian lokakarya yang didukung WHO yang diselenggarakan pada Juni, Juli, Agustus, dan September 2023. Pada setiap lokakarya, berbagai pemangku kepentingan kunci.
rs – termasuk perwakilan dari kantor kesehatan kabupaten, fasilitas pelayanan kesehatan primer (puskesmas), fasilitas pelayanan kesehatan tersier, dan manajer program penyakit – mengidentifikasi tantangan, mengembangkan metodologi perhitungan dan peramalan, serta menyepakati cara terbaik untuk mengintegrasikan pedoman tersebut ke dalam sistem informasi kesehatan yang sudah ada. “Untuk efektif, perencanaan pasokan obat harus memperhitungkan semua faktor yang dapat menyebabkan selisih antara perencanaan dan pengadaan,” kata Dr N. Paranietharan, Perwakilan WHO untuk Indonesia.
“Mengingat beragamnya pemangku kepentingan yang terlibat, kami yakin pedoman baru ini akan mencapai sinkronisasi yang jauh lebih besar, memberdayakan administrator fasilitas kesehatan, dan mempercepat upaya Indonesia untuk mencapai UHC dan agenda transformasi kesehatan.” Pedoman tersebut telah disebarluaskan kepada pemangku kepentingan utama dari rumah sakit, kantor kesehatan provinsi dan kabupaten, puskesmas, dan unit program penyakit di Kementerian Kesehatan. Kementerian tersebut akan mengadakan.
Pemantauan rutin terhadap implementasi, disertai dengan kegiatan sosialisasi dan pengumpulan masukan secara berkala.