Utang Luar Negeri Indonesia Turun Menjadi US$423,8 Miliar, Kata BI
Liga335 daftar – TEMPO.CO, Jakarta – Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa utang luar negeri Indonesia mencapai US$423,8 miliar pada November 2025, sedikit turun dari US$424,9 miliar pada Oktober.
Penurunan ini juga terlihat secara tahunan, dengan pertumbuhan tercatat sebesar 0,2 persen year-on-year, dibandingkan dengan 0,5 persen pada Oktober, menurut Ramdan Denny Prakoso, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI.
“Hal ini dipengaruhi oleh pertumbuhan yang lebih lambat pada utang luar negeri sektor publik,” kata Ramdan dalam pernyataan resmi pada Kamis, 15 Januari 2026.
Utang luar negeri pemerintah mencapai US$209,8 miliar pada November, turun dari US$210,5 miliar pada Oktober, dengan pertumbuhan tahunan melambat menjadi 3,3 persen dari 4,7 persen. BI mengaitkan perlambatan ini dengan pergerakan kepemilikan surat utang negara di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang meningkat.
Berdasarkan sektor, utang luar negeri pemerintah sebagian besar dialokasikan untuk program kesehatan dan sosial (22,2 persen), diikuti oleh administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial (19 .7 persen), pendidikan (16,4 persen), konstruksi (11,7 persen), dan transportasi dan pergudangan (8,6 persen). Portofolio ini didominasi oleh investasi jangka panjang, yang hampir mencakup seluruh total, sehingga memberikan stabilitas terhadap volatilitas pasar.
Sementara itu, utang luar negeri swasta mencapai US$191,2 miliar pada November, turun dari US$191,7 miliar pada Oktober. Pertumbuhan kontraksi sebesar 1,3 persen secara tahunan, dibandingkan dengan 1,5 persen pada Oktober, dipengaruhi oleh penurunan tahunan sebesar 0,4 persen pada utang luar negeri korporasi non-keuangan. Sebagian besar utang luar negeri swasta terkonsentrasi di sektor manufaktur, jasa keuangan dan asuransi, listrik dan gas, serta pertambangan dan penggalian, yang bersama-sama menyumbang 80,5 persen dari total.
Secara keseluruhan, BI menyatakan struktur utang luar negeri Indonesia tetap sehat, dengan rasio utang terhadap PDB turun menjadi 29,3 persen pada November 2025, sementara utang jangka panjang mewakili 86,1 persen dari total utang luar negeri, memberikan bantalan terhadap volatilitas pasar global.