Polisi Indonesia mengumumkan nama-nama tersangka dalam kasus penyerangan dengan cairan asam terhadap seorang aktivis
Liga335 daftar – 19 Maret 2026 – Markas Besar Polisi Militer TNI (Puspom TNI) mengumumkan penangkapan empat tersangka pelaku serangan asam terhadap aktivis hak asasi manusia Andrie Yunus dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan (Kontras) pekan lalu. Keempatnya dilaporkan merupakan anggota Badan Intelijen Strategis TNI (BAIS). Komandan Puspom, Mayor Jenderal Yusri Nuryanto, mengatakan dalam konferensi pers pada hari Rabu bahwa para tersangka, yang hanya diidentifikasi dengan inisial NDP, SL, BHW, dan ES, saat ini ditahan “di Puspom TNI untuk penyelidikan lebih lanjut”.
Yusri menambahkan bahwa penyidik masih berupaya mengungkap motif di balik serangan tersebut dan sedang memproses laporan resmi, termasuk mengumpulkan kesaksian saksi dan meminta “visum et repertum”, dalam hal ini laporan pemeriksaan medis dari Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo. Secara terpisah pada hari Rabu, Direktur Reserse Kriminal Polri, Komisaris Besar Iman Imanuddin, mengatakan bahwa pihak berwenang meyakini bahwa lebih banyak orang mungkin terlibat terlibat dalam serangan asam pada 12 Maret, termasuk dua tersangka lain yang diidentifikasi sebagai BHC dan MAK. “Kami juga sedang menganalisis bukti ilmiah lainnya untuk mendukung penyelidikan,” kata Iman, sambil menambahkan bahwa kepolisian dan militer akan berkoordinasi terkait temuan-temuan dari penyelidikan mereka.
Kepala pemantauan impunitas Kontras, Jane Rosalina, mengatakan Andrie masih berada di ruang perawatan intensif di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo di Senen, Jakarta Pusat. Ia menambahkan bahwa meskipun kondisinya stabil, Andrie menderita luka bakar parah di wajah, mata kanan, tangan, dan dada. Serangan pada Kamis lalu terjadi saat Andrie sedang mengendarai sepeda motornya di sepanjang Jl.
Salemba I di Jakarta Pusat, ketika dua pria tak dikenal yang mengendarai sepeda motor melemparkan cairan asam kepadanya. Insiden tersebut memicu kemarahan dari kelompok-kelompok masyarakat sipil dan sesama aktivis hak asasi manusia, yang mengutuk serangan tersebut sebagai upaya untuk membungkam para pengkritik pemerintah.