Makassar — Pemerintah Kota Makassar menyiapkan anggaran ratusan juta rupiah untuk mendukung peran RT dan RW sebagai penjaga lingkungan. Kebijakan ini menjadi bentuk apresiasi atas kerja-kerja sunyi di tingkat paling dekat dengan warga—menjaga kebersihan, ketertiban, serta merespons kebutuhan pelayanan sehari-hari.
Bagi Pemerintah Kota Makassar, penguatan RT/RW bukan sekadar bantuan dana. Ini adalah investasi sosial: memperkuat fondasi kota dari lorong, gang, dan halaman rumah warga.
Menopang Peran Garda Terdepan
RT/RW berada di garis depan pengelolaan lingkungan. Mereka mengoordinasikan kerja bakti, mengingatkan pengelolaan sampah, menengahi persoalan kecil, hingga menjadi penghubung cepat saat ada kondisi darurat. Anggaran yang disiapkan Pemkot diarahkan untuk menunjang aktivitas tersebut—agar kerja lingkungan berjalan konsisten dan terukur.
Dukungan ini diharapkan meringankan beban operasional sekaligus meningkatkan motivasi pengurus lingkungan untuk terus melayani dengan baik.
Kebersihan, Ketertiban, dan Keamanan Publik
Lingkungan yang terawat berbanding lurus dengan keamanan publik. Saluran air bersih mengurangi genangan, pengelolaan sampah menekan risiko penyakit, dan aktivitas warga yang terkoordinasi memperkuat ketertiban. Dengan dukungan anggaran, RT/RW dapat merencanakan program rutin—bukan reaktif—mulai dari jadwal bersih-bersih hingga edukasi kebiasaan bersih.
Pemkot menekankan bahwa hasil yang diharapkan bukan seremonial, melainkan perubahan yang terasa di keseharian warga.
Human Interest: Apresiasi atas Kerja Sunyi
Di balik kebijakan, ada ketua RT yang memeriksa got saat subuh, pengurus RW yang menenangkan warga saat hujan deras, hingga relawan lingkungan yang mengajak anak-anak memilah sampah. Bantuan anggaran ini menjadi pengakuan bahwa kerja komunitas layak dihargai.
Bagi banyak pengurus, dukungan ini berarti kepastian—program bisa direncanakan, partisipasi warga meningkat, dan kelelahan terbayar oleh hasil yang nyata.
Tata Kelola dan Akuntabilitas
Pemkot menegaskan pentingnya transparansi dan akuntabilitas. Penyaluran dan pemanfaatan anggaran akan disertai mekanisme pelaporan sederhana namun jelas, agar dana tepat sasaran dan berdampak langsung. Kolaborasi dengan kelurahan dan kecamatan diperkuat untuk pendampingan dan evaluasi berkala.
Pendekatan berbasis kebutuhan lokal—pemetaan titik rawan sampah, jadwal angkut, hingga partisipasi warga—menjadi acuan agar program efektif.
Menata Kota dari Lingkungan
Langkah Pemkot Makassar menyiapkan ratusan juta rupiah bagi RT/RW penjaga lingkungan menegaskan arah pembangunan yang membumi: kota dibangun dari bawah. Ketika lingkungan kuat, kota menjadi aman, bersih, dan nyaman.
Pesan akhirnya sederhana namun tegas: rawat lingkungan, kuatkan pelayanan, dan hargai kerja bersama—karena Makassar yang tangguh lahir dari RT/RW yang berdaya.