Empat Tanda Peringatan Terkait Keterlibatan Indonesia dalam Dewan Perdamaian Trump
Liga335 – TEMPO.CO, Jakarta – Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia, Dino Patti Djalal, telah mengemukakan serangkaian kekhawatiran terkait keputusan Indonesia untuk bergabung dengan Dewan Perdamaian, sebuah inisiatif yang diluncurkan oleh Amerika Serikat.
Dino menjelaskan empat “lampu kuning” atau tanda peringatan dalam video yang diunggahnya di akun Instagram pada Senin, 26 Januari 2026.
Indonesia secara resmi bergabung dengan Dewan Perdamaian saat peluncurannya di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, pada 22 Januari. Presiden Prabowo Subianto termasuk di antara pemimpin yang menandatangani piagam badan baru tersebut, yang diinisiasi oleh Presiden AS Donald Trump.
Tanda Peringatan Pertama: Tidak Ada Penyebutan Palestina atau Gaza Dino mengatakan kekhawatirannya yang pertama terletak pada isi piagam Dewan Perdamaian itu sendiri, yang menurutnya sama sekali tidak menyebut Palestina atau Gaza.
Penghilangan ini, katanya, mengherankan mengingat inisiatif tersebut awalnya dipromosikan sebagai bagian dari rencana 20 poin untuk mencapai perdamaian di Gaza. Menurut Dino, versi akhir Perjanjian yang ditandatangani di Davos berbeda secara signifikan dari apa yang telah ditetapkan oleh PBB. Ia mengatakan hal ini menimbulkan pertanyaan tentang niat dan arah asli inisiatif tersebut.
Tanda Peringatan Kedua: Struktur Kekuasaan yang Tidak Seimbang Kekhawatiran kedua Dino berkaitan dengan struktur tata kelola Dewan Perdamaian. Setelah meninjau setiap pasal perjanjian, ia berargumen bahwa badan tersebut tampaknya berfungsi sebagai organisasi internasional yang secara efektif dikendalikan oleh Presiden Trump.
Ia mencatat bahwa semua keputusan memerlukan persetujuan dari Trump sebagai ketua, yang posisinya tidak memiliki masa jabatan tetap dan hanya dapat dialihkan kepada penerus yang dipilihnya sendiri.
Struktur ini, kata Dino, menciptakan sistem yang sangat terpusat dan hierarkis di mana wewenang hampir sepenuhnya berada di tangan presiden AS.
Tanda Peringatan Ketiga: Surat Trump kepada Kanada Tanda peringatan lain, kata Dino, muncul dari surat yang dikirim Trump kepada Perdana Menteri Kanada Mark Carney, di mana presiden AS dilaporkan mencabut Can Undangan Ada untuk bergabung dengan Dewan Perdamaian. Dino menyarankan langkah tersebut mungkin terkait dengan kritik yang disampaikan oleh Carney di Forum Ekonomi Dunia di Davos.
Ia mengatakan insiden ini menunjukkan bahwa partisipasi dalam Dewan Perdamaian dapat ditentukan oleh pertimbangan pribadi rather than kriteria objektif atau institusional, memperkuat persepsi bahwa badan tersebut beroperasi sebagai klub eksklusif di bawah kendali Trump.
Tanda Peringatan Keempat: Peran Israel dan Ketidakhadiran Palestina Dino juga mempertanyakan inclusion of Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu in the Board of Peace, sementara Palestina, yang ia gambarkan sebagai korban utama konflik, dikecualikan. Ia mengatakan banyak pengamat merasa cemas dengan kehadiran Netanyahu, mengingat kampanye militer Israel di Gaza sejak Oktober 2023.
Dino juga menyoroti pengaruh kuat Israel dalam politik AS melalui jaringan lobi seperti American Israel Public Affairs Committee (AIPAC), dengan argumen bahwa hal ini memberikan Israel pengaruh yang jauh lebih besar. Dalam Dewan Perdamaian, Indonesia berada dalam posisi yang lebih rentan dibandingkan negara-negara lain seperti Indonesia. Dia memperingatkan bahwa Indonesia berisiko menjadi korban manipulasi politik jika tidak berhati-hati, menyarankan bahwa partisipasinya dapat digunakan untuk melegitimasi posisi Israel daripada mendorong upaya perdamaian yang sejati.
Kekhawatiran terakhir Dino berpusat pada pidato yang disampaikan oleh pejabat tinggi AS, termasuk Penasihat Gedung Putih Jared Kushner, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, dan utusan khusus Steve Witkoff, pada peluncuran Dewan Perdamaian. Ia mengatakan pidato mereka tidak menunjukkan empati terhadap penderitaan Palestina dan tidak menyebut ribuan korban di Gaza sejak Oktober 2023. Dino juga mencatat bahwa pidato-pidato tersebut menghindari penggunaan istilah “kebebasan” dalam kaitannya dengan Palestina, meskipun istilah tersebut sering digunakan dalam retorika politik AS.
Sebaliknya, ia mengatakan, acara tersebut tampaknya lebih fokus pada pujian terhadap Presiden Trump, memperkuat kesan bahwa inisiatif tersebut lebih tentang kepemimpinan AS daripada menangani krisis kemanusiaan di Gaza. Baca: U Sekretaris Jenderal PBB memperingatkan bahwa ‘hukum rimba’ dapat menggantikan hukum internasional.