Tabungan di Indonesia Meningkat Seiring Penurunan Konsumsi: Tanggapan Pemerintah

Tabungan di Indonesia Meningkat Seiring Penurunan Konsumsi: Tanggapan Pemerintah

Tabungan di Indonesia Meningkat Seiring Penurunan Konsumsi: Tanggapan Pemerintah

Liga335 daftar – TEMPO.CO, Jakarta – Hasil survei terbaru dari Bank Indonesia menunjukkan tren di mana masyarakat mengalokasikan sebagian besar penghasilan mereka untuk tabungan sambil mengurangi pengeluaran. Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, mengakui pergeseran ini, mencatat bahwa warga semakin berhati-hati dalam mengelola keuangan mereka sebagai respons terhadap volatilitas ekonomi global dan ketidakpastian geopolitik.

Namun, Susiwijono menegaskan bahwa pada tingkat makro, pergeseran ini tetap terkendali. Ia menyatakan bahwa konsumsi secara keseluruhan terus tumbuh, didukung oleh investasi yang kuat dan belanja pemerintah, serta program-program yang ada untuk melindungi daya beli dan merangsang aktivitas ekonomi. “Indikator pengeluaran menunjukkan bahwa aktivitas konsumsi tetap tangguh, seperti yang tercermin dalam Indeks Pengeluaran Mandiri, yang naik 4,4 persen menjadi 352,2 pada akhir Desember 2025,” kata Susiwijono kepada Tempo pada Rabu, 14 Januari 2026.

Ia menambahkan. r menyatakan bahwa pengeluaran untuk mobilitas publik mengalami peningkatan signifikan selama musim liburan Natal dan Tahun Baru 2026. Menurut survei Bank Indonesia, porsi pendapatan yang dialokasikan untuk tabungan mencapai 14,9 persen pada Desember 2025, naik dari 14,4 persen yang tercatat pada bulan sebelumnya.

Di sisi lain, porsi pendapatan yang dialokasikan untuk konsumsi turun dari 74,6 persen menjadi 74,3 persen. Menanggapi angka-angka tersebut, Susiwijono menyatakan bahwa pemerintah tetap berkomitmen untuk menyeimbangkan konsumsi publik dengan kebutuhan untuk memperkuat kapasitas pendapatan dan tabungan. Upaya ini meliputi distribusi Pinjaman Usaha Rakyat (KUR) dan dukungan terarah bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta tenaga kerja.

“Dengan tingkat pendapatan yang lebih kuat, konsumsi tetap terjaga meskipun tabungan meningkat, memungkinkan sektor perbankan untuk membiayai investasi dan mendorong ekspansi ekonomi di masa depan,” tambahnya. Ronny P. Sasmita, seorang ekonom dari Strategic and Economics Action In Pemerintah, memandang peningkatan alokasi tabungan sebagai tanda meningkatnya kesadaran finansial.

Ia menggambarkan perilaku tersebut sebagai respons rasional terhadap ketidakstabilan ekonomi, menyarankan bahwa dalam jangka panjang, tren ini dapat memperkuat ketahanan rumah tangga dan mengurangi kerentanan terhadap guncangan eksternal. Namun, Ronny memperingatkan tentang dampak makroekonomi jangka pendek yang negatif. Karena konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari setengah Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, perlambatan dalam pengeluaran secara efektif meredam mesin pertumbuhan utama negara.

“Ketika konsumsi melambat, mesin utama pertumbuhan ekonomi tertekan,” jelas Ronny, mencatat bahwa kondisi tersebut seringkali menyebabkan permintaan melemah dan perlambatan perekrutan korporasi. Ronny juga menyoroti bahwa meskipun peningkatan tabungan dapat memperkuat likuiditas perbankan, hal itu berisiko jika tidak diubah menjadi distribusi kredit dan investasi. Ia menjelaskan bahwa dalam kondisi permintaan lemah, bank cenderung menjadi terlalu berhati-hati sementara bisnis.

Ketidakmauan untuk memperluas usaha semakin meningkat. Akibatnya, tabungan mungkin menumpuk di bank tanpa dialirkan ke kegiatan produktif. “Jika hal ini terus berlanjut, peningkatan tabungan berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi daripada mempercepatnya,” kata Ronny.

Untuk mengurangi risiko ini, Ronny menyarankan agar pemerintah fokus pada pemeliharaan daya beli kelas menengah dan menciptakan insentif agar tabungan mengalir kembali ke investasi produktif. Intervensi yang mungkin termasuk stimulus kredit untuk UMKM atau kebijakan yang bertujuan mengurangi risiko bisnis. “Pada akhirnya, tantangan bukan terletak pada volume tabungan yang tinggi itu sendiri, tetapi bagaimana secara efektif mengonversi modal tersebut kembali ke investasi produktif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” Ronny menyimpulkan.