Batu Hula (INITOGEL)—Di tengah barisan tenda pengungsian yang berdiri rapat dan wajah-wajah lelah akibat bencana, sebuah momen sederhana mendadak mencuri perhatian. Dari atas mobil yang berhenti perlahan, Prabowo Subianto mencondongkan tubuhnya, merentangkan tangan, lalu memeluk erat seorang anak kecil yang berdiri di tepi jalan pengungsian Batu Hula. Tidak ada pidato panjang, tidak ada protokol yang kaku—hanya pelukan hangat yang berbicara lebih banyak daripada kata-kata.
Momen Sunyi yang Menguatkan
Anak kecil itu tampak ragu pada awalnya. Tubuhnya mungil, wajahnya sedikit kotor oleh debu, matanya menatap penuh rasa ingin tahu. Ketika Prabowo menyapanya dan meraih tubuhnya, ragu itu berubah menjadi tenang. Pelukan singkat, namun terasa lama bagi mereka yang menyaksikan.
Di sekitar lokasi, warga pengungsian terdiam sejenak. Beberapa ibu menutup mulut, sebagian relawan menghentikan langkah. Dalam situasi serba terbatas, sentuhan kemanusiaan seperti itu menjadi penguat batin yang sulit dijelaskan.
“Anaknya langsung senyum,” ujar Rahma, salah satu relawan lokal. “Kami di sini capek, tapi momen kecil seperti itu bikin hati hangat.”
Batu Hula dan Luka yang Masih Basah
Pengungsian Batu Hula menjadi rumah sementara bagi ratusan warga yang terdampak bencana. Tenda-tenda darurat berjajar, anak-anak bermain seadanya, dan para orang tua berusaha tegar meski kehilangan banyak hal—rumah, ladang, bahkan kenangan.
Kunjungan Prabowo ke lokasi pengungsian dilakukan untuk melihat langsung kondisi warga, memastikan bantuan berjalan, dan mendengar keluhan masyarakat. Namun, justru interaksi personal seperti pelukan itu yang paling membekas.
“Kadang yang kami butuhkan bukan hanya bantuan logistik,” kata seorang warga pengungsian. “Tapi rasa bahwa kami tidak sendirian.”
Bahasa Kemanusiaan yang Universal
Tanpa mikrofon dan sorotan panggung, Prabowo tampak beberapa kali menyapa anak-anak, menanyakan kabar, dan memberi mereka semangat. Ia menyadari bahwa anak-anak adalah kelompok paling rentan dalam situasi bencana—mudah lelah, mudah takut, dan sering kali tak mampu mengungkapkan perasaannya.
Pelukan dari atas mobil itu menjadi simbol kecil, namun kuat: bahwa empati bisa hadir di mana saja, bahkan di sela-sela kunjungan resmi.
Di media sosial, foto dan video momen tersebut cepat menyebar. Banyak warganet menyebutnya sebagai “pelukan yang menenangkan” dan “gestur sederhana yang bermakna”.
Lebih dari Sekadar Kunjungan
Bagi warga Batu Hula, kunjungan tokoh nasional tentu penting. Tetapi yang lebih penting adalah perasaan diakui dan diperhatikan. Kehadiran seorang pemimpin di tengah pengungsian—menyapa, mendengar, dan menyentuh secara manusiawi—memberi energi baru bagi mereka yang sedang berusaha bangkit.
Seorang ibu yang menyaksikan langsung momen itu berkata pelan, “Anak-anak kami mungkin tidak ingat semua yang terjadi hari ini. Tapi mereka akan ingat bahwa ada orang yang datang dan memeluk mereka.”
Pelukan yang Tinggal di Ingatan
Saat mobil kembali berjalan dan rombongan melanjutkan kunjungan, anak kecil itu masih berdiri di tempatnya, melambaikan tangan. Pelukannya mungkin singkat, tetapi maknanya menetap—di ingatan warga, di hati relawan, dan di tengah cerita panjang tentang kemanusiaan di saat krisis.
Di Batu Hula, hari itu, sebuah pelukan dari atas mobil menjadi pengingat sederhana: di tengah bencana, kehangatan manusia tetap menjadi bantuan paling awal dan paling dalam.